Pedoman Teknis MELA KATANYA

Thursday, August 15, 2024

Pengantar

 

Latar Belakang

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Keanekaragaman budaya ini sekaligus menjadi tantangan untuk dapat dilestarikan serta diwariskan kepada generasi selanjutnya. Setiap daerah memiiki variasi dan jenis kebudayaan yang beraneka ragam serta memiliki keunikan tersendiri. Namun demikian, perkembangan zaman dan era keterbukaan menyebabkan masuk dan berkembangnya budaya asing yang lebih diminati oleh sebagian masyarakat karena mereka menganggap budaya asing itu sebagai budaya modern. Ini mengakibatkan generasi muda lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih menarik dan praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Masuknya budaya asing semakin gencar menggeser budaya lokal yang semakin terpinggirkan dan bahkan mulai kehilangan pelaku dan pendukungnya. Proses itu semakin tidak terbendung karena diperkuat oleh media massa dan teknologi komunikasi yang semakin meluas. Dengan jaringan internet di tangan, semua informasi dapat masuk ke ruang-ruang privat.

Kabupaten Karo merupakan salah satu daerah tujuan pariwisata yang ada di Sumatera Utara memiliki berbagai hasil kebudayaan yang sangat menarik, diantaranya lagu-lagu tradisional berbahasa karo, tarian, alat musik tradiosional karo dan lain sebagainya. Namun seiring perkembangan teknologi dan masuknya budaya asing para generasi muda karo sudah mulai banyak yang meninggalkan budaya tersebut, tak terkeculai generasi muda yang ada di Kecamatan Barus Jahe.

Banyak generasi muda di Kecamatan Barus Jahe yang memiliki kemampuan dalam bernyanyi dan bermain musik, namun kita lebih sering mendengar mereka bernyanyi dengan bahasa asing (Bahasa Inggris) dari pada menyanyikan lagu-lagu tradisional yang berbahasa Karo maupun lagu nasional (Bahasa Indonesia). Disamping itu kita juga sudah jarang melihat generasi muda Kecamatan Barusjahe mampu menggunakan alat musik tradisional Karo seperti : Genggong, Tambur, Gendang Singanaki, Sarunai, Kulcapi, Gendang Singindungi, Keteng – Keteng, Penganak, Gung, Balobat, Murab, dan Surdam.

Kurangnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda Kecamatan Barusjahe dalam melestarikan lagu-lagu daerah dan alat musik tradisional Karo, dikarenakan saat ini mereka lebih menyukai dan lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai perkembangan zaman. Sebab lainnya adalah karena kurangnya komunikasi dan sosialisasi yang diakukan di kalangan generasi muda yang menyebabkan minimnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya lokal. Dengan demikian, generasi muda kurang memperoleh informasi dan pembelajaran terhadap kebudayaan mereka sendiri.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Kecamatan Barusjahe berkeinginan untuk melakukan Inovasi Tahun 2023 dengan melaksanakan pembinaan minat dan bakat bagi generasi muda yang ada di Kecamatan Barusjahe dalam bidang Seni dan Budaya, khususnya dalam bernyanyi lagu-lagu tradisional dan nasional serta penggunaan alat musik tradisiona Karo. Kegiatan ini diberi nama “MELA KATANYA” (Mengembangkan/Melatih Bakat Anak Bernyanyi Lagu Tradisional dan Nasional serta Bermain Musik Tradisional). Pelaksanaan kegiatan Mela Katanya akan dimulai di Desa Barusjahe, dan seanjutnya akan diaksanakan di desa-desa yang ada di kecamatan Barusjahe.

No comments:

Post a Comment

Pengantar

  Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Keanekaragaman budaya ...